Awalnya, saya sebenarnya cuma ikut-ikutan.
Bukan karena sudah punya rencana untuk liburan, apalagi membuat itinerary khusus ke Bandung. Saat awal diajak, saya baru selesai cuti melahirkan, jadi rasanya masih dalam masa pemulihan setelah melahirkan. Pergi jauh pun rasanya belum terpikirkan.
Tapi ketika teman-teman mulai merencanakan perjalanan ke Bandung, saya akhirnya ikut.
Tidak banyak ekspektasi. Tidak ada target harus ke mana, harus makan apa, atau harus mengunjungi tempat tertentu.
Pokoknya ikut dulu.
Ternyata, keputusan sederhana untuk ikut-ikutan itu malah menjadi salah satu keputusan yang menyenangkan.
Mungkin ini yang saya butuhkan tanpa saya sadari, yaitu healing.
Bukan healing yang harus mahal atau pergi jauh ke tempat yang Instagramable. Cukup keluar sebentar dari rutinitas, bertemu teman-teman, ngobrol tanpa buru-buru, ketawa, dan menikmati perjalanan tanpa harus memikirkan terlalu banyak hal.
Akhirnya, berangkatlah kami ke Bandung.
Saya, Kak Nanda, Mba Zahro, Zahwa, Asri, Adzka, dan Suyen.
Tujuh orang, satu perjalanan, dan tentu saja banyak cerita yang akhirnya muncul di luar rencana.
Perjalanan dimulai setelah magrib.
Kami menunggu kereta sambil memastikan semua orang sudah lengkap dan barang masing-masing aman. Kalau bepergian ramai-ramai, rasanya ada satu hal yang harus selalu dipastikan, yakni orangnya jangan sampai ketinggalan. Hehehe.
Sesampainya di Bandung, salah satu hal yang membuat perjalanan ini terasa semakin menyenangkan adalah hadirnya pendamping terbaik kami, Akang Bandung.
Terima kasih banyak untuk Akang Bandung yang sudah menemani, membantu, dan membuat perjalanan kami jadi lebih mudah. Tanpa Akang, mungkin cerita trial and error kami akan jauh lebih panjang.
Tempat menginap yang nyaman ternyata punya peran besar dalam sebuah perjalanan. Bukan cuma tempat untuk tidur, tapi juga menjadi semacam basecamp. Tempat kami kembali setelah jalan-jalan, tempat rebahan, ngobrol, makan, ketawa, dan membicarakan rencana berikutnya.
Basecamp kami kali ini adalah The Majesty Apartment. Tempat yang sangat nyaman untuk menjadi tempat pulang setelah seharian berkeliling Bandung.
Lalu ada keputusan untuk menyewa mobil.
Di kepala kami, mobil rental seharusnya membuat semuanya lebih praktis.
Ternyata… tidak semudah itu, Ferguso.
Ada segala macam trial and error. Mulai dari urusan mobil, rute, sampai drama kecil selama perjalanan.
Tapi lucunya, justru hal-hal yang tidak berjalan mulus itu yang akhirnya menjadi bahan cerita paling seru.
Salah satu hal yang saya suka dari perjalanan ini adalah kami tidak terlalu memaksakan itinerary.
Awalnya, kami punya rencana untuk mampir ke Braga.
Tapi setelah seharian berkeliling, tenaga kami mulai terkuras. Sebelumnya, kami sudah naik-turun di Dusun Bambu, mencoba archery dan softgun, lalu makan siang di Liwetan Asep Strawberry Lembang sampai kekenyangan. Setelah itu, kami masih lanjut ke Bukit Strawberry Berbunga, bahkan sempat memetik strawberry langsung dari kebunnya.
Jadi, ketika waktunya menuju Braga, rasanya energi kami sudah benar-benar tinggal sisa-sisa.
Daripada memaksakan diri ke Braga hanya karena sudah tertulis di itinerary, akhirnya kami sepakat untuk skip.
Pilihan malam itu sederhana, yakni kami makan, ngobrol sebentar, lalu pulang untuk beristirahat. Ternyata, itu keputusan yang tepat.
Kadang itinerary memang dibuat untuk membantu perjalanan, bukan untuk membuat kita merasa bersalah ketika ada yang tidak tercapai.
Tidak semua tempat harus didatangi. Tidak semua rencana harus diwujudkan. Kalau badan sudah bilang capek, ya sudah. Makan enak dan tidur juga termasuk bagian dari liburan.
Sayangnya, perjalanan kami tidak bisa dinikmati secara lengkap sampai akhir.
Adzka harus pulang lebih awal.
Rasanya agak sayang karena baru juga mulai menikmati waktu bersama, sudah harus ada yang duluan kembali. Tapi ya, namanya juga perjalanan. Tidak semua orang bisa punya waktu yang sama.
Ada satu kejadian yang sampai sekarang masih menjadi bahan cerita, hampir ditinggalnya Suyen di Mal Cihampelas, Bandung.
Kejadiannya setelah salat magrib. Kami merasa semuanya sudah lengkap. Sudah siap berangkat, barang sudah dibawa, lalu saat akan pergi mengantar Adzka ke stasiun Bandung, tiba-tiba muncul pertanyaan, “Eh… Suyen mana?”
Hening.
Saling lihat.
Cek HP.
Akhirnya, kami sadar Suyen masih di Mal Cihampelas. Masih menunggu antrean kamar mandi.
Panik? Sedikit.
Ketawa? Jelas.
Untungnya, drama ini tidak berakhir tragis. Suyen berhasil ditemukan dan kami pun kembali berkumpul.
Perjalanan ke Bandung ini sebenarnya sederhana. Itinerary yang tidak terlalu padat. Tidak semua tempat harus berhasil kami datangi. Ada rencana yang berubah, ada mobil rental dengan segala trial and error-nya, ada yang harus pulang lebih dulu, bahkan hampir ada yang tertinggal.
Perjalanan ini bukan tentang seberapa banyak tempat yang kami kunjungi.
Tapi tentang ngobrol dengan teman-teman. Tentang ketawa karena hal-hal receh. Tentang bisa duduk dan menikmati perjalanan tanpa harus memikirkan hal-hal yang terasa berat.
Dan mungkin, tanpa saya sadari sejak awal, Bandung menjadi kesempatan saya untuk healing.
Setelah melewati masa pemulihan setelah melahirkan dan rutinitas yang cukup menguras energi, rasanya menyenangkan sekali bisa punya waktu untuk menjadi “Ika” lagi, bukan hanya seseorang yang sibuk dengan rutinitas dan tanggung jawab sehari-hari.
Saya pulang dari Bandung dengan badan yang sedikit lebih lelah. Tapi hati rasanya jauh lebih ringan.
Dan yang paling bahaya, malah ketagihan.
Jadi kalau suatu hari ada yang bilang, “Bandung lagi?”
Kayaknya saya sudah tahu jawabannya. Gasss lah. 🚞