Tepat Pada Waktunya

Semasa kecil, mulai dari preschool, SD, hingga SMK, saya tidak pernah berani membayangkan bisa melanjutkan pendidikan sampai sarjana.

Saya berasal dari keluarga sederhana. Kami hidup serba cukup, cukup untuk makan, cukup untuk sekolah. Orang tua saya pun hanya mengenyam pendidikan hingga SMP. Karena itu, sejak lulus SMP saya hanya punya satu rencana yakni masuk SMK, kemudian bekerja.

Saya bahkan lulus SMK lebih cepat dari teman-teman seharusnya. Saat itu usia saya 16 tahun, sehingga belum memiliki KTP dan dokumen pendukung untuk bekerja. Saya sempat bingung harus melakukan apa.

Kemudian datang sebuah kesempatan yang tidak pernah saya rencanakan.

Guru BK sekaligus pembimbing PMR menawarkan saya untuk mengikuti seleksi beasiswa penuh di Universitas Gunadarma. Saya sempat pesimis karena kondisi ekonomi keluarga dan nilai akademik saya, terutama matematika yang hanya pas KKM. Namun saya tetap mencoba dan memilih Program Studi D3-S1 Manajemen Pemasaran.

Setelah melewati seleksi rapor, tes matematika, bahasa Inggris, dan wawancara, saya hanya bisa menunggu kabar.

Hampir satu bulan tidak ada kabar. Saya akhirnya pergi ke Depok bersama paman dan bekerja freelance di sebuah usaha gift & souvenir.

Sampai suatu hari, ketika sedang berada di Gramedia Margonda bersama atasan saya, sebuah SMS masuk ke ponsel jadul saya.

“Selamat, Anda lolos dan diterima beasiswa full Program Studi D3-S1 Manajemen Pemasaran”.

Saya masih ingat betul bagaimana saya spontan berteriak, “Alhamdulillah!” lalu berlari menemui atasan saya. Saya pikir saya harus berhenti bekerja, tetapi justru beliau mendukung keputusan saya, bahkan menawarkan agar saya tetap bekerja sambil kuliah. Namun, saya memilih fokus kuliah.

Setelah satu semester, saya menyadari bahwa kuliah Manajemen Pemasaran membutuhkan banyak kegiatan praktik dan modal. Akhirnya, saya kembali mencari pekerjaan freelance dan bekerja di sebuah laundry.

Maret 2020, pandemi COVID-19 mengubah semuanya. Laundry tempat saya bekerja harus gulung tikar, kuliah berubah menjadi online, dan saya pulang ke Indramayu. Saya kembali mencari cara agar tetap produktif dan memiliki penghasilan.

Lagi-lagi, kesempatan datang dari arah yang tidak saya duga. Saya diajak saudara bekerja sebagai staf Tata Usaha di sebuah SMK di Terisi, Indramayu. Di sana, saya juga dipercaya mengajar matematika, pelajaran yang justru dulu membuat saya minder.

Tidak lama kemudian, Pak Ardi, pemilik laundry yang pernah menjadi tempat saya bekerja, menghubungi saya. Beliau menanyakan kabar dan menawarkan saya untuk bergabung kembali di laundry miliknya, Gayo Laundry.

Saya kembali ke Depok. Awalnya, saya hanya sebagai karyawan backup. Namun, dua minggu kemudian saya dipercaya mengelola laundry, mengikuti training premium laundry, menangani customer, hingga merekrut rekan kerja. Ilmu Manajemen Pemasaran yang saya pelajari di kampus akhirnya bisa saya praktikkan secara langsung.

Dari lulus D3 hingga menyelesaikan S1 Manajemen, saya masih bersama Gayo Laundry.

Sampai akhirnya saya merasa harus naik satu tangga lagi. Setelah berdiskusi cukup panjang dengan Pak Ardi, saya mencoba masuk ke dunia perkantoran. Saya mencari pekerjaan di Bekasi karena ingin memiliki akses transportasi yang lebih mudah untuk pulang ke kampung halaman di Indramayu.

Salah satu lowongan yang saya lamar adalah PT Excellent Infotama Kreasindo. Saya mengikuti proses seleksi mulai dari Loker.id, wawancara melalui telepon, tes tertulis, hingga role play sebagai sales. Saya kembali pesimis karena banyak produk Excellent yang asing bagi saya.

Namun, pengalaman pertama datang ke Excellent membuat saya terkesan. Saya merasa diperlakukan bukan sekadar sebagai pelamar, tetapi sebagai tamu yang dihargai. Saat datang ke kantor, saya dipersilakan masuk ke ruangan ber-AC, disediakan air mineral dan makanan ringan. Bahkan, ketika menunggu giliran role play, saya diarahkan untuk menunggu dengan nyaman di coffee shop dekat kantor.

Ketika mendapat informasi bahwa saya lolos tes pertama dan mendapat panggilan untuk tes kedua, saya bahkan sempat ingin menyerah karena harus kembali dari Depok ke Bekasi tanpa tahu tes apa yang akan saya hadapi. Namun, saya tetap datang.

Saya bahkan terlambat beberapa menit karena melewatkan KRL. Pak Afandi dari Human Capital sempat menelepon dan menanyakan keberadaan saya. Telepon itu membuat saya sadar bahwa kesempatan ini mungkin tidak datang dua kali.

Sesampainya di Excellent, saya baru mengetahui bahwa “tes kedua” tersebut ternyata adalah proses penandatanganan kontrak kerja.

Saya masih ingat perasaan saya saat itu. Dan alhamdulillah, hari ini saya masih menjadi bagian dari Excellent.

Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan Zahwa berjudul “Tidak Semua Orang Punya Garis Start yang Sama”. Tulisan itu membuat saya kembali mengingat perjalanan saya sendiri.

Dulu saya sering merasa bahwa saya tertinggal. Saya tidak pernah punya keberanian untuk bermimpi kuliah. Saya tidak memulai dengan kondisi yang sama seperti banyak orang lain. Bahkan, untuk sampai ke satu tahap, saya harus melewati beberapa jalan yang tidak pernah saya rencanakan.

Tapi sekarang saya sadar, mungkin memang garis start saya berbeda. Dan ternyata tidak masalah.

Karena perjalanan bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Ada yang berlari, ada yang berjalan, dan ada yang harus berhenti sebentar untuk mengatur napas. Yang penting adalah tetap melangkah.

Kalau saya melihat ke belakang, hampir setiap perubahan besar dalam hidup saya dimulai dari sebuah kesempatan yang awalnya tidak saya rencanakan.

Dulu saya menyebutnya keberuntungan yang datang di waktu yang tepat. Sekarang saya menyebutnya kesempatan yang dipertemukan dengan keberanian untuk mengambilnya. Saya mungkin tidak memulai dari garis start yang sama dengan orang lain. Tapi saya bersyukur, karena setiap langkah yang saya jalani membawa saya sampai di titik ini. Dan mungkin masih ada tangga berikutnya yang harus saya naiki.

Sampai jumpa di Ratu Ika’s Journey selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *