165 Kilometer dan Sebuah Kenangan

Hari Jumat sore lalu, saya dan suami untuk pertama kalinya kembali pulang ke Indramayu dari Bekasi naik motor. Jaraknya sekitar 165 km, dan kali ini kami membawa sekitar 8.400 ml ASIP beku untuk Dede El.

Jujur, perjalanan kali ini cukup membuat saya deg-degan. Jalan yang berlubang, ditambah banyaknya mobil kontainer gandeng yang kami temui di perjalanan, membuat jantung saya beberapa kali berdegup lebih kencang. Apalagi, saya baru tiga bulan lalu menjalani operasi SC (Sectio Caesarea). Ada rasa takut dan khawatir kalau sampai terjadi apa-apa di perjalanan.

Tapi alhamdulillah, kami sampai di rumah dengan selamat.

Kami memilih naik motor karena lebih fleksibel. Sesampainya di kampung halaman, kami juga jadi lebih mudah untuk bepergian ke mana-mana.

Sampai rumah sekitar pukul 10 malam, hal pertama yang kami lakukan adalah mencuci tangan dan buru-buru memindahkan ASIP beku ke freezer. Setelah semuanya aman, barulah kami melihat Dede El yang sudah lelap tertidur.

Melihat wajahnya yang manis setelah perjalanan panjang itu, rasanya semua lelah langsung hilang.

Besok paginya, tibalah salah satu momen yang sudah saya tunggu-tunggu yakni Dede El foto studio untuk pertama kalinya.

Sebenarnya, foto studio ini sudah saya rencanakan dan booking jauh-jauh hari. Bukan sekadar untuk punya foto bagus, tapi juga sebagai perayaan kecil untuk Dede El yang sudah berusia tiga bulan.

Tiga bulan mungkin terdengar singkat. Tapi bagi kami, tiga bulan ini penuh sekali dengan cerita. Dari hari-hari pertama belajar memahami tangisnya, begadang, belajar menggendong, sampai sekarang melihatnya mulai semakin aktif dan menunjukkan banyak ekspresi baru.

Rencana foto studio ini juga akhirnya direalisasikan oleh suami karena saya sempat protes. Sejak Dede El lahir, ternyata hampir tidak ada foto saya dan Dede El dalam satu frame. Kebanyakan hanya foto Dede El sendiri atau dengan suami.

Jadi, kali ini saya ingin punya satu kenangan kecil kami bertiga sekaligus merayakan tiga bulan perjalanan Dede El bersama kami.

Sebelum berangkat, saya dan suami sempat khawatir. Takut Dede El rewel, nangis terus, atau malah tidak mau difoto. Maklum, kami juga belum tahu bagaimana reaksinya karena ini adalah pengalaman pertamanya foto di studio.

Kami pun berusaha menyiapkan semuanya supaya Dede El merasa nyaman. Kami memastikan popoknya kering, perutnya kenyang, dan tidurnya cukup. Tidak lupa, kami membawa perlengkapan lengkap seperti baju ganti, popok, ASIP, dan botol untuk berjaga-jaga kalau nanti Dede El lapar lagi.

Ternyata kekhawatiran kami tidak terjadi.

Selama sesi foto, alhamdulillah, fotografernya dengan sabar mengarahkan pose dan mengikuti mood Dede. Dede El juga anteng. Sesekali dia berekspresi saat difoto, tapi lebih banyak tidur. Hehehe.

Melihat Dede yang begitu tenang selama sesi foto rasanya lega sekaligus senang.

Setelah sesi foto selesai, kami melihat hasil fotonya bersama-sama. Dan entah kenapa, saya langsung merasa terharu.

Ada rasa bahagia melihat Dede El yang saya gendong, dengan wajah manisnya, pipinya yang merah seperti tomat, dan senyumnya yang begitu menggemaskan.

Mungkin bagi orang lain, foto-foto ini hanyalah foto keluarga biasa. Tapi bagi saya, ada banyak cerita di balik setiap fotonya. Ada perjalanan 165 km, ada rasa khawatir di perjalanan, ada ASIP beku yang harus dijaga, ada rasa lelah, dan ada kebahagiaan sederhana karena akhirnya punya foto bersama Dede El.

Dan yang paling penting, foto-foto ini menjadi cara sederhana kami merayakan tiga bulan pertama kehidupan Dede El.

Walaupun hasil foto yang kami terima tidak begitu banyak, saya berharap suatu hari nanti, ketika Dede El sudah besar, dia bisa melihat foto-foto ini dan tahu seperti apa dirinya ketika masih bayi.

Dia mungkin tidak akan mengingat hari ini. Tapi semoga foto-foto ini bisa menceritakan kepadanya bahwa di usia tiga bulan, dia sudah begitu dicintai dan dirayakan oleh kami.

Sampai jumpa di Ratu Ika’s Journey selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *