Setelah menjalani cuti melahirkan selama 3 bulan, akhirnya saya kembali ke kantor. Rasanya campur aduk. Senang bisa kembali bertemu teman-teman dan menjalani rutinitas seperti dulu, tetapi di sisi lain, ada perasaan asing karena cuti yang panjang. Kini saya tidak hanya kembali sebagai seorang karyawan, tetapi juga sebagai seorang ibu.
Senin pagi, seperti biasa Excellent mengadakan briefing bersama seluruh tim. Saya tidak menyangka akan diberikan kesempatan oleh boss untuk menceritakan perjalanan selama cuti, mulai dari awal cuti, proses melahirkan, hingga pengalaman merawat anak.
Awalnya saya pikir saya akan menceritakannya dengan santai. Namun, ketika mulai berbicara, rasanya seperti menelusuri kembali setiap momen yang telah saya lalui.
Saya kembali mengingat bagaimana rasanya kontraksi pertama, proses persiapan operasi caesar yang begitu cepat dan penuh ketegangan, hingga momen yang paling saya tunggu dalam hidup saya, mendengar tangisan pertama anak saya dan menciumnya untuk pertama kali.
Salah satu rekan kerja bertanya kepada saya, “Apakah saat melahirkan membutuhkan peran seorang ibu?”. Pertanyaan sederhana itu ternyata sangat menyentuh hati saya. Jawaban saya adalah “Iya, sangat membutuhkan”. Sebagai seorang calon ibu yang baru pertama kali memiliki anak, ternyata ada begitu banyak hal yang belum saya pahami. Bagaimana cara menggendong bayi dengan benar. Bagaimana cara mengasihi bayi dengan benar. Bagaimana menenangkan bayi yang menangis.
Karena satu dan lain hal, saat proses persalinan saya hanya ditemani oleh suami. Ketika mengingat kembali momen itu sambil menjawab pertanyaan tersebut, saya mulai berkaca-kaca. Air mata pun menetes. Bukan karena saya menyesal. Melainkan karena saya begitu terharu dengan perjalanan yang sudah saya lalui.
Setelah sesi briefing selesai, saya kembali meraba daily task dan merasa seperti gelas kosong. Beberapa bulan terakhir hidup saya sepenuhnya dipenuhi dengan mengasihi, pumping, mengganti popok, menidurkan bayi, hingga menghafal jam minum ASI.
Hari ini, saya membuka Shogun, WireGuard, CRM, menyusun penawaran harga, membaca email, dan mencoba mengingat kembali alur pekerjaan yang dulu terasa sangat familiar.
Lucunya, beberapa hal yang dulu saya kerjakan hampir setiap hari kini terasa seperti baru pertama kali saya lihat. Saya harus meraba-raba lagi. Saya harus belajar lagi. Saya harus beradaptasi lagi.
Untungnya, saya tidak berjalan sendirian. Saya sangat bersyukur memiliki lingkungan kerja yang begitu suportif. Boss memberikan banyak arahan, Mbak Fitra sebagai leader dengan sabar membantu saya kembali memahami ritme pekerjaan, dan Asri sebagai partner juga selalu siap ketika saya membutuhkan bantuan.
Ada satu pengalaman baru lagi hari ini, yakni pertama kalinya saya pumping ASI di kantor.
Jujur, rasanya cukup kikuk. Masih terasa canggung ketika harus membawa perlengkapan pumping, mencari waktu yang tepat, dan merasa menjadi perhatian orang lain. Namun saya yakin, semua ibu bekerja mungkin pernah berada di titik yang sama.
Alhamdulillah, produksi ASI tetap lancar. Walaupun hari ini saya hanya sempat melakukan satu sesi pumping di siang hari. Biasanya saat di rumah saya bisa pumping dua kali pada siang dan sore.
Saya juga sedang belajar menemukan ritme baru antara pekerjaan, target yang harus diselesaikan, dan kebutuhan anak yang tetap menjadi prioritas.
Hari pertama ini mengajarkan saya bahwa menjadi ibu bekerja bukan berarti harus langsung sempurna. Yang terpenting adalah tetap melangkah.
Hari ini saya berhasil melewati banyak “yang pertama” pertama kembali bekerja setelah cuti, pertama berbagi cerita tentang perjalanan menjadi seorang ibu di depan seluruh tim, pertama kembali menggunakan berbagai tools pekerjaan, dan pertama pumping di kantor.
Sampai jumpa di Ratu.Ika’s Journey selanjutnya.
