Ketika air mengering dan kami menyadari betapa berharganya setetes air.
Musim kemarau tahun 2026 kali ini terasa berbeda bagi keluarga kami di Indramayu.
Awalnya, kami hanya mengira mesin jetpump di rumah sedang bermasalah. Air yang biasanya keluar dengan lancar tiba-tiba tidak keluar sama sekali. Kami mencoba mengecek mesin, tetapi ternyata masalahnya bukan di sana.
Sumber airnya yang sudah kosong.
Ternyata, air di dalam tanah sudah tidak lagi mencukupi. Musim kemarau yang cukup panjang membuat sumber air di rumah kami benar-benar kering.
Dan ternyata, bukan hanya rumah kami yang mengalami hal ini. Tiga rumah tetangga kami juga mengalami kondisi yang sama. Air dari sumber mereka juga tidak lagi keluar. Di antara beberapa rumah di sekitar kami, hanya satu rumah yang masih memiliki air, yaitu rumah Uwa Jaong, rumah yang paling pojok.
Akhirnya, untuk sementara waktu kami mengandalkan air dari rumah Uwa.
Setiap sore, kami harus ngangsu air menggunakan ember, jeriken, hingga galon. Air dipindahkan sedikit demi sedikit dari rumah Uwa ke rumah kami. Begitu setiap sore, selama kurang lebih tiga hari.
Kelihatannya sederhana, hanya memindahkan air dengan ember. Namun, setelah dilakukan berulang-ulang, ternyata cukup melelahkan juga.
Belum lagi rasa khawatir yang muncul.
Bagaimana kalau sumber air di rumah Uwa juga ikut habis?
Kalau itu terjadi, kami harus mendapatkan air dari mana?
Air adalah kebutuhan yang setiap hari tidak mungkin kami tinggalkan. Untuk mandi, mencuci, memasak, membersihkan rumah, dan berbagai kebutuhan lainnya. Ketika air tiba-tiba tidak ada, barulah kami benar-benar menyadari betapa pentingnya sesuatu yang selama ini terasa biasa saja.
Setelah berdiskusi bersama keluarga, akhirnya kami mengambil keputusan untuk membuka sumber air baru di rumah. Keputusan itu tentu bukan keputusan kecil.
Di tengah kondisi sedang kekurangan air, kami justru harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mencari sumber air baru. Mau tidak mau, kami harus merogoh kantong lebih dalam.
Rasanya memang berat. Di satu sisi, kami sedang kesulitan mendapatkan air. Di sisi lain, kami harus mengeluarkan biaya untuk mengatasi masalah tersebut.
Tapi kami juga tidak bisa terus bergantung pada air dari rumah Uwa. Kami membutuhkan sumber air sendiri yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, terutama jika musim kemarau seperti ini masih berlangsung.
Sebagai anak dari seorang petani, kekhawatiran kami ternyata bukan hanya soal air di rumah. Ada kekhawatiran lain yang jauh lebih besar, yakni sawah.
Lahan sawah keluarga kami juga mulai mengalami kekurangan air. Tanaman padi mulai terlihat layu karena kebutuhan airnya tidak terpenuhi.
Melihat kondisi sawah seperti itu tentu membuat hati tidak tenang. Bagi petani, sawah bukan hanya sebidang tanah. Di sana ada modal, tenaga, waktu, dan harapan yang ditanam selama berbulan-bulan. Ada harapan bahwa ketika panen tiba, semua perjuangan itu akan terbayar.
Tapi ketika air mulai sulit didapat, harapan itu pun ikut terasa terancam.
Kami hanya bisa berharap musim kemarau ini segera berakhir dan masih ada cukup air untuk menyelamatkan tanaman padi kami.
Semoga padi-padi itu tetap bertahan. Semoga tidak sampai gagal panen. Dan semoga sumber air baru di rumah kami nantinya benar-benar menemukan air yang cukup.
Musim kemarau kali ini mengajarkan kami satu hal sederhana, sesuatu yang sering kita anggap biasa ternyata bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga ketika kita kehilangannya.
Hari-hari ini kami benar-benar belajar bagaimana rasanya ketika air tidak lagi mudah didapat.
Sampai jumpa di Ratu Ika’s Journey selanjutnya.