Saya pernah melihat sebuah konten yang views-nya tinggi, likes-nya banyak, bahkan banyak yang membagikan, tetapi tidak ada customer baru yang datang?
Saya pernah berpikir, bukankah kalau banyak orang melihat berarti marketingnya berhasil?
Ternyata tidak selalu.
Views hanya menunjukkan bahwa konten kita dilihat. Belum tentu menunjukkan bahwa orang tersebut membutuhkan produk atau jasa yang kita tawarkan.
Sebuah konten bisa viral karena lucu, informatif, kontroversial, atau memang menarik untuk dibaca. Tetapi setelah selesai membaca, orang bisa saja langsung pergi tanpa melakukan apa-apa. Di sinilah menurut saya perbedaan antara konten yang mendapatkan perhatian dan konten yang menghasilkan customer.
Konten yang menghasilkan customer biasanya tidak hanya menarik, tetapi juga relevan dengan masalah yang sedang dihadapi target audience.
Misalnya, daripada hanya mengatakan:
“Kami menyediakan solusi backup terbaik untuk perusahaan.”
Mungkin akan lebih menarik jika membahas:
“Apa yang terjadi jika server perusahaan tiba-tiba gagal dan tidak ada backup yang bisa digunakan?”
Konten kedua tidak hanya memperkenalkan produk. Namun mencoba mengangkat masalah yang mungkin benar-benar dirasakan oleh calon customer.
Bagi saya, marketing bukan sekadar bagaimana mendapatkan banyak views, tetapi bagaimana membuat orang yang tepat merasa “Ini masalah saya.”
Dan ketika pembaca merasa masalah tersebut relevan, barulah ada kemungkinan mereka mencari tahu lebih jauh tentang solusi yang ditawarkan.
Jadi, mungkin pertanyaannya bukan lagi “Seberapa banyak orang yang melihat konten kita?”. Tetapi, “Apakah konten ini dilihat oleh orang yang tepat dan memang sedang membutuhkan apa yang kita tawarkan?”.
Karena kita tidak selalu membutuhkan konten yang viral. Kadang, satu konten yang ditemukan oleh orang yang tepat, di waktu yang tepat, justru lebih berarti daripada ribuan views yang tidak membawa ke mana-mana.
Sampai jumpa di Ratu Ika’s Journey selanjutnya.