Ternyata terlalu terbiasa hidup cashless itu ada efek sampingnya juga.
Beberapa bulan terakhir, hampir semua transaksi saya lakukan secara digital. Mau beli makan, tinggal scan QRIS. Belanja, tinggal buka e-wallet. Bayar ini-itu, transfer. Bahkan kadang saya pergi dari rumah tanpa mengecek apakah di dompet masih ada uang atau tidak.
Sampai suatu hari, saat pulang kampung ke Indramayu, saya dan adik saya mampir ke Alfamart untuk belanja beberapa keperluan.
Seperti biasa, barang sudah dipilih, antre di kasir, lalu waktunya membayar.
“QRIS ya, Mbak.”
Saya scan seperti biasa. Tapi ternyata pembayaran tidak masuk.
Dicoba lagi. Tetap gagal.
Awalnya saya pikir mungkin aplikasi saya yang bermasalah. Cek saldo aman. Internet di HP juga aman.
Ternyata setelah dijelaskan oleh kasir, sistem pembayaran di Alfamart tersebut belum terhubung secara online untuk pembayaran QRIS. Jadi, meskipun QR sudah di-scan, transaksi tetap tidak bisa diproses dan akhirnya gagal.
Oalah… Masalahnya ternyata bukan di HP saya.
Di situlah saya mulai panik kecil, karena saya sadar tidak membawa uang cash yang cukup.
Saya buka dompet. Kosong.
Buka bagian kecil tas. Tidak ada.
Mulai bongkar kantong-kantong tas yang sebenarnya sudah lama tidak pernah saya perhatikan.
Dan akhirnya… Ketemu beberapa receh.
Saya kumpulkan semuanya. Satu per satu dihitung.
Rasanya seperti sedang melakukan ekspedisi mencari harta karun, padahal misinya cuma satu, bayar belanjaan di Alfamart.
Untungnya, receh-receh yang selama ini cuma jadi penghuni dasar tas ternyata masih bisa menyelamatkan keadaan.
Di situ saya baru sadar, mungkin saya sudah terlalu nyaman dengan cashless.
Hampir semua pembayaran sekarang bisa dilakukan secara digital. Tinggal scan, selesai. Sampai akhirnya kita lupa bahwa sistem digital juga punya kemungkinan untuk tidak bekerja.
QR bisa saja gagal. Sistem bisa bermasalah. Dan ketika itu terjadi, kita kembali ke metode pembayaran paling sederhana, uang tunai.
Sejak kejadian itu, saya jadi berpikir untuk selalu menyimpan sedikit uang cash di tas.
Tidak perlu banyak. Cukup sebagai cadangan kalau sewaktu-waktu sistem pembayaran digital sedang tidak bisa diajak kompromi.
Lucu juga kalau dipikir-pikir.
Selama ini saya merasa hidup cashless itu tanda bahwa semuanya sudah serba praktis.
Tapi hari itu, justru beberapa receh yang sudah lama terlupakan di dalam tas yang menjadi penyelamat.
Ternyata secanggih apa pun sistem pembayaran sekarang, tetap jangan remehkan cash. Karena kita tidak pernah tahu kapan harus kembali menjadi manusia yang menghitung kembalian di depan kasir.
Sampai jumpa di cerita Ratu Ika’s Journey selanjutnya.
Ini mungkin karena wilayah negara Ika belum terkena dampak globalisasi dan modernisasi. Jangan-jangan belum ada jaringan internet ya, hehehe…
Hehehe, internet aman, Boss. Hanya saja modernisasinya mungkin berjalan sedikit lebih lambat. 😄