Hari ini Rabu, 2 September 2026. Sesuai memorandum dari Excellent, setiap hari Rabu di bulan September adalah jadwal WFA (Work From Anywhere) di Excellent. Jadi, hari ini saya tidak perlu berangkat ke kantor.
Alias… Kerja dari rumah.
Pagi-pagi saya tetap bangun seperti biasa. Status boleh WFH, tapi status sebagai ibu rumah tangga tetap WFO (Work From Office) di rumah sendiri. Urusan rumah tetap harus dikerjakan dulu sebelum akhirnya saya bisa duduk tenang di depan laptop.
Sekitar jam 6 pagi, saya sudah mulai siap-siap membuka laptop. Lalu, saya buka to-do list harian.
Melihat daftar pekerjaan yang harus diselesaikan, saya langsung berpikir, “Oke, kita mulai satu-satu. Jangan panik. Jangan lihat semuanya sekaligus”.
Karena kalau dilihat semuanya sekaligus, bukannya tambah produktif, malah bisa bikin buru-buru mengerjakan semuanya dan pekerjaan jadi kurang teratur. Bisa-bisa ada yang terlewat.
Sekitar jam 9 pagi, suami saya baru bangun. Entah karena baru bangun tidur atau memang melihat saya duduk manis di depan laptop, pertanyaan pertama yang keluar justru, “Kok nggak berangkat ke kantor?”. Saya cuma senyum.
Tapi karena beliau masih dalam kondisi loading setelah bangun tidur, saya tidak langsung menjawab.
Ditanya lagi. Akhirnya saya jawab, “WFH hari ini. Hari Rabu kerja dari rumah”.
Setelah tahu saya memang tidak ke kantor karena WFH, suami ternyata cukup pengertian. Bukannya mengajak ngobrol panjang atau mengganggu saya bekerja, dia malah membelikan minuman dan snack untuk menemani saya bekerja.
Nah, ini baru support system. Hehehe.
Kerja tetap kerja, tapi snack harus tetap ada.
Hari ini kebetulan jadwal suami masuk kerja siang. Jadi, pagi sampai menjelang siang, kami sama-sama ada di rumah.
Saya sibuk dengan laptop dan pekerjaan. Suami sibuk dengan persiapan sebelum berangkat kerja.
Sesekali, mungkin suasana rumah terdengar lebih ramai daripada biasanya. Tapi justru itu yang membuat WFH hari ini terasa berbeda.
Tidak ada perjalanan ke kantor. Tidak perlu buru-buru keluar rumah. Cukup duduk di rumah dan bekerja.
Tapi jangan keburu iri, kalau membaca cerita WFH seperti ini, mungkin kelihatannya enak.
Bangun pagi. Tidak perlu berangkat ke kantor. Bisa kerja dari rumah. Dibelikan snack sama suami.
Tapi sebenarnya, WFH juga punya tantangan sendiri.
Di kantor, kalau lapar tinggal melihat jam makan siang.
Di rumah? Baru bekerja sebentar, tiba-tiba melihat dapur. “Hmm… ada makanan nggak ya?”. Lalu kembali ke laptop.
Lima menit kemudian, “Kayaknya tadi lihat ada snack”.
Untung hari ini sudah dibelikan snack. Jadi, setidaknya saya tidak perlu melakukan investigasi ke dapur terlalu sering.
Kalau suami masuk kerja pagi buta, mungkin ceritanya akan berbeda lagi.
Rumah sudah sepi dari pagi. Suami sudah berangkat. Saya kembali dengan laptop, pekerjaan, dan to-do list.
Tapi hari ini kebetulan jadwalnya masuk siang, jadi ada sedikit bonus, ada teman di rumah sebelum jam kerja suami dimulai.
Kesimpulan WFH hari ini, tidak berangkat ke kantor bukan berarti tidak bekerja.
Dan WFH bukan Work From Holiday. Apalagi Work From Kasur. Hehehe.
Tetap kerja, tetap punya to-do list, tetap mengejar deadline. Hanya saja, hari ini kantornya pindah sementara ke rumah.
Bonusnya? Snack-nya dibelikan suami.
Besok kembali ke rutinitas seperti biasa. Tapi untuk hari ini, mari nikmati dulu satu hari kerja dari rumah.
Sampai jumpa di Ratu Ika’s Journey selanjutnya.