“Bukankah bayi usia 3 bulan belum mengerti isi buku?”
Pertanyaan itu mungkin sering muncul. Saya pun sempat berpikir demikian. Namun, setelah mulai mempraktikkannya bersama Eliano, saya menyadari bahwa tujuan membacakan buku pada bayi bukanlah agar ia memahami isi cerita. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan, kedekatan, dan stimulasi sejak dini.
Di usia 3 bulan, bayi masih berada pada tahap mendengar. Bayi mengenali suara orang tua, memperhatikan intonasi, ritme bahasa, hingga ekspresi wajah saat bunda dan ayah berbicara. Karena itulah, saya meyakini bahwa membacakan buku menjadi salah satu bentuk stimulasi yang sangat baik.
Banyak orang menganggap membaca baru dimulai ketika anak bisa mengeja atau mengenal alfabet. Termasuk neneknya Eliano. Padahal, fondasinya sudah dapat dibangun sejak bayi lahir. Bahkan, sejak dalam kandungan, Eliano sudah sering saya bacakan buku Proxmox VE karya leader Support Excellent, Pak Ahmad Imanudin.
Saat orang tua membacakan buku, bayi belajar mengenali suara ayah dan bunda, merasakan kenyamanan saat dipeluk sambil mendengarkan cerita, serta membangun ikatan emosional (bonding) dengan ayah dan bunda. Meski belum memahami makna setiap kalimat, otak bayi sedang bekerja menyerap berbagai stimulasi bahasa.
Saya mulai mengenalkan buku kepada Eliano melalui buku Aku Sayang Allah, Aku Cinta Islam, dan seri My First Islamic Book Series. Buku-buku ini memiliki ilustrasi sederhana dengan warna yang menarik. Walaupun Eliano belum memahami isi ceritanya, saya tetap membacakannya dengan suara yang lembut dan penuh ekspresi. Sesekali saya menunjukkan gambar-gambar di dalam buku sambil mengajaknya berbicara.
Saya percaya, kecintaan terhadap membaca tidak muncul begitu saja ketika anak sudah sekolah. Kebiasaan itu dibangun sedikit demi sedikit, dimulai dari pelukan hangat, suara bunda yang membacakan cerita, dan waktu berkualitas bersama.
Semoga langkah kecil yang dimulai sejak usia 3 bulan ini menjadi investasi jangka panjang bagi tumbuh kembang Eliano. Karena setiap halaman yang dibacakan hari ini adalah bekal bagi rasa ingin tahunya di masa depan.
Sampai jumpa di Ratu Ika’s Journey selanjutnya.